This is a glimpse of my thought about traveling. Why am I traveling?
1. Traveling for me is something very spiritual. It's like, another way to thank God. For example is when I go to the beach enjoying the infinity sight of the sea or when I go near the mountain. Those huge things reminds me of how small I am, how there's something even more huge than them, the One that created them, God.
2. Traveling reminds me that world isn't always comfortable. Not every place in this world is as comfortable as my bed at home. Therefore I need to be very very thankful to have such a blessed comfortable life.
3. Traveling let me meet random people with random stories that color my life. It opens my mind and gives me a lot of knowledge. Some stories let me know that not everybody in this world is as lucky as I am, so I should be grateful.
4. Traveling, so far, never gets me tired and sick. Instead it makes me even healthier since when I travel, I walk a lot.
5. This awesome quote:
28.5.12
6.5.12
Digitally yours
Jadi ceritanya saya pengin refreshing sejenak dari proses pembuatan website organisasi kampus yang saya kebut selama weekend ini nih. Ngeblog sabi sih ya.
Nah saya mau cerita kalau sekarang saya sedang bekerja sebagai Web Developer di salah satu digital agency di Jakarta. Hmm, mau jelasin apa lagi ya. Ya pokoknya saya sedang menikmati proses belajar ini lah. Berhubung lulus kuliah dengan skill minim, ini saatnya belajar banyak. Selama ini belajar iya bayar iya, mahal pula. Nah ini saatnya belajar dan dibayar, asik gak tuh hahaha. Apalagi dengan suasana kantor yang youthful dan menyenangkan, saya berasa pindah kampus aja.
Sepertinya sih memang di dunia digital ini lah tempat saya menetapkan hati dan mengembangkan diri. Kurang menarik apalagi coba, dunia digital dan social media udah bener-bener mendarah daging di diri kita. Saya sendiri contohnya yang kecanduan. Dan daripada terus-terusan jadi korban, mending dipelajari dan didalami sekalian karna sesungguhnya masih banyak potensi yang bisa digali.
Lagi-lagi sotoy. Balik kerja aja yuk. Ciao.
Nah saya mau cerita kalau sekarang saya sedang bekerja sebagai Web Developer di salah satu digital agency di Jakarta. Hmm, mau jelasin apa lagi ya. Ya pokoknya saya sedang menikmati proses belajar ini lah. Berhubung lulus kuliah dengan skill minim, ini saatnya belajar banyak. Selama ini belajar iya bayar iya, mahal pula. Nah ini saatnya belajar dan dibayar, asik gak tuh hahaha. Apalagi dengan suasana kantor yang youthful dan menyenangkan, saya berasa pindah kampus aja.
Sepertinya sih memang di dunia digital ini lah tempat saya menetapkan hati dan mengembangkan diri. Kurang menarik apalagi coba, dunia digital dan social media udah bener-bener mendarah daging di diri kita. Saya sendiri contohnya yang kecanduan. Dan daripada terus-terusan jadi korban, mending dipelajari dan didalami sekalian karna sesungguhnya masih banyak potensi yang bisa digali.
Lagi-lagi sotoy. Balik kerja aja yuk. Ciao.
28.4.12
We are who we choose to be
Di sekolah dulu diajarin bahwa manusia itu memiliki kehendak bebas. Mungkin salah satu buktinya adalah kita diberi kebebasan untuk menambahkan karakteristik kita melalui penampilan. Adalah berkat Tuhan yang luar biasa dimana kita diberi wajah dan karakter fisik yang berbeda-beda, bahkan untuk yang kembar identik pun. Coba bayangin muka orang banyak yang sama gitu, bete gak sih.
Tapi entah mengapa ternyata keanekaragaman fisik kita yang sampe sedetil retina dan sidik jarinya aja beda tiap orang ini belum cukup jadi identitas dan karakteristik suatu individu. Hal simpel adalah model rambut dan pakaian, tiap orang beda kan. Lalu lanjut ditambah aksesoris seperti kacamata yang sekarang jadi salah satu identitas utama (banyak kan yang mengenali seseorang dari pakai kacamata atau gak nya). Lanjut ke level yang lebih tinggi, ada tato dan piercing yang masih agak tabu di masyarakat kita.
Pada akhirnya, apapun tambahan yang kita pasang untuk memperkaya karakteristik kita, itu kita yang memilih dan memutuskan. Mau pakai baju apa dengan model seaneh apa, mau menuhin badan pakai tato atau piercing sebadan penuh, mau pakai kacamata jadi kalung, kita yang memilih.
Ketika tutur kata, sikap, sifat masih bisa secara tidak kita sengaja terpengaruh dari lingkungan, karakteristik luar yang terlihat dari seseorang adalah keputusan orang tersebut. Dan saya percaya segala keputusan bukan hal yang mudah untuk dibuat, bahkan untuk hal kecil. Dan keputusan orang lain terhadap diri mereka sendiri adalah sesuatu yang layak dihormati.
Dan saya sedang dalam masa belajar untuk menghormati keputusan individu lain dengan tidak berkomentar dan menghakimi sepihak apapun keputusan mereka melalui pikiran maupun perkataan.
We are who we choose and decide to be. So do other people.
Tapi entah mengapa ternyata keanekaragaman fisik kita yang sampe sedetil retina dan sidik jarinya aja beda tiap orang ini belum cukup jadi identitas dan karakteristik suatu individu. Hal simpel adalah model rambut dan pakaian, tiap orang beda kan. Lalu lanjut ditambah aksesoris seperti kacamata yang sekarang jadi salah satu identitas utama (banyak kan yang mengenali seseorang dari pakai kacamata atau gak nya). Lanjut ke level yang lebih tinggi, ada tato dan piercing yang masih agak tabu di masyarakat kita.
Pada akhirnya, apapun tambahan yang kita pasang untuk memperkaya karakteristik kita, itu kita yang memilih dan memutuskan. Mau pakai baju apa dengan model seaneh apa, mau menuhin badan pakai tato atau piercing sebadan penuh, mau pakai kacamata jadi kalung, kita yang memilih.
Ketika tutur kata, sikap, sifat masih bisa secara tidak kita sengaja terpengaruh dari lingkungan, karakteristik luar yang terlihat dari seseorang adalah keputusan orang tersebut. Dan saya percaya segala keputusan bukan hal yang mudah untuk dibuat, bahkan untuk hal kecil. Dan keputusan orang lain terhadap diri mereka sendiri adalah sesuatu yang layak dihormati.
Dan saya sedang dalam masa belajar untuk menghormati keputusan individu lain dengan tidak berkomentar dan menghakimi sepihak apapun keputusan mereka melalui pikiran maupun perkataan.
We are who we choose and decide to be. So do other people.
27.4.12
Pinterest.com
Belakangan ini, karna lagi hiatus Twitter (ah, sekarang ketauan kenapa saya mulai ngeblog lagi deh), saya mulai bermain-main dengan satu web social media baru, image bookmarking site yang bernama Pinterest. Semacam sering denger gitu ya? Sama fresh-nya dengan Path mungkin. Path sendiri saya belum nyoba.
Sebelumnya gak ada ide sih Pinterest tuh kaya apa. Setelah dicoba, oooh ternyata mirip-mirip Tumblr toh. Tumblr, seperti yang kita tau sesungguhnya adalah blogging site simpel (mungkin cocok dibilang mini-blogging site kali ya) yang setelah saya ditelurusi dari awal saya daftar tahun 2009an sampai sekarang, Tumblr mulai bergeser fungsinya jadi lebih ke image-blogging gitu, walau untuk fitur lainya seperti text, video, music masih digunakan. Tapi kebanyakan orang atau temen yang saya tau menggunakan Tumblr untuk menikmati gambar, yang kedua baru ngeblog teksnya deh.
Pinterest, menurut saya, dengan epiknya mengambil fungsi Tumblr yang digemari tersebut, dibungkus dalam satu image bookmarking site. Analoginya, kalau selama ini kita ngiket rambut pake karet musti dilibet-libet, sekarang pakai jepitan dan langsung slep! rambut rapi terikat. Fungsinya dan hasilnya sama, tapi cara dan tools-nya beda. Ya sotoy aja sayanya mah sok analogi segala hahaha.
Oke coba dijelaskan lebih lanjut ya tentang Pinterest. Setelah dicoba lebih lanjut, ternyata sama kaya Tumblr, gak cuma image-bookmarking tapi pengguna bisa upload image juga. Loh ini kan yang menurut saya jadi masalah Tumblr selama ini, copyright dari konten. Di Tumblr kan orang bebas mau upload gambar apa aja, entah punya dia sendiri atau asal comot di internet, which is hurting the copyright. But in Pinterest's case, if I can just google an image right away, copy the image link and paste it, it would be so much easier than re-uploading an image, right?
Tapi tentu gak semua orang sepemikiran sama saya yang seorang web developer yang emang kerjaannya copy-paste link image ke coding gitu yah. Tapi tentu, Pinterest ini memiliki kemungkinan lebih kecil bagi para penggunanya untuk bisa melanggar copyright.
Pinterest juga punya fitur semacam tombol "like" dan "tweet it" yang sering ada di web-web masa kini dimana kita bisa langsung nge-share link itu ke Facebook atau Twitter, tulisannya "Pin it!" Hari gini kan, semua orang bawaannya nge-share apa aja di dunia maya. Haha. Trus konsep "pin board" nya menurut saya keren dan ngena banget. Ohya dan tentunya karna saya picky, fitur yang paling jagoan dari Pinterest adalah bahwa kita bisa cuma ngefollow board bertemakan hal yang kita suka. Jadi gak suka, ya gak follow! Cihuy gak tuh.
Begitulah saudara-saudara, analisis sotoy seorang Front-End Developer yang belum genap 2 bulan bekerja di dunia per-digital-an haha. Padahal mah kerjanya ngoding di kantor, sok-sokan nganalisis ginian. Bagi yang suka cuci mata lihat gambar-gambar dari kegemaran saya (cuma tentang Traveling dan Craft sih) bisa dinikmati di account Pinterest saya, silahkaaan!
Sebelumnya gak ada ide sih Pinterest tuh kaya apa. Setelah dicoba, oooh ternyata mirip-mirip Tumblr toh. Tumblr, seperti yang kita tau sesungguhnya adalah blogging site simpel (mungkin cocok dibilang mini-blogging site kali ya) yang setelah saya ditelurusi dari awal saya daftar tahun 2009an sampai sekarang, Tumblr mulai bergeser fungsinya jadi lebih ke image-blogging gitu, walau untuk fitur lainya seperti text, video, music masih digunakan. Tapi kebanyakan orang atau temen yang saya tau menggunakan Tumblr untuk menikmati gambar, yang kedua baru ngeblog teksnya deh.
Pinterest, menurut saya, dengan epiknya mengambil fungsi Tumblr yang digemari tersebut, dibungkus dalam satu image bookmarking site. Analoginya, kalau selama ini kita ngiket rambut pake karet musti dilibet-libet, sekarang pakai jepitan dan langsung slep! rambut rapi terikat. Fungsinya dan hasilnya sama, tapi cara dan tools-nya beda. Ya sotoy aja sayanya mah sok analogi segala hahaha.
Oke coba dijelaskan lebih lanjut ya tentang Pinterest. Setelah dicoba lebih lanjut, ternyata sama kaya Tumblr, gak cuma image-bookmarking tapi pengguna bisa upload image juga. Loh ini kan yang menurut saya jadi masalah Tumblr selama ini, copyright dari konten. Di Tumblr kan orang bebas mau upload gambar apa aja, entah punya dia sendiri atau asal comot di internet, which is hurting the copyright. But in Pinterest's case, if I can just google an image right away, copy the image link and paste it, it would be so much easier than re-uploading an image, right?
Tapi tentu gak semua orang sepemikiran sama saya yang seorang web developer yang emang kerjaannya copy-paste link image ke coding gitu yah. Tapi tentu, Pinterest ini memiliki kemungkinan lebih kecil bagi para penggunanya untuk bisa melanggar copyright.
Pinterest juga punya fitur semacam tombol "like" dan "tweet it" yang sering ada di web-web masa kini dimana kita bisa langsung nge-share link itu ke Facebook atau Twitter, tulisannya "Pin it!" Hari gini kan, semua orang bawaannya nge-share apa aja di dunia maya. Haha. Trus konsep "pin board" nya menurut saya keren dan ngena banget. Ohya dan tentunya karna saya picky, fitur yang paling jagoan dari Pinterest adalah bahwa kita bisa cuma ngefollow board bertemakan hal yang kita suka. Jadi gak suka, ya gak follow! Cihuy gak tuh.
![]() |
| And not forget to mention its extremely appealing User Interface & User Experience! |
Begitulah saudara-saudara, analisis sotoy seorang Front-End Developer yang belum genap 2 bulan bekerja di dunia per-digital-an haha. Padahal mah kerjanya ngoding di kantor, sok-sokan nganalisis ginian. Bagi yang suka cuci mata lihat gambar-gambar dari kegemaran saya (cuma tentang Traveling dan Craft sih) bisa dinikmati di account Pinterest saya, silahkaaan!
23.4.12
Payung Teduh-Tidurlah
Aha! Mari membuka hiatus panjang blog saya dengan posting singkat tentang jatuh cinta. Entah beberapa minggu lalu saya mendadak jatuh cinta kepada lagu Tidurlah karya Payung Teduh. Lagunya sesuai dengan nama bandnya, meneduhkan hati. Nadanya menenangkan dam membuat rileks. Cocok banget jadi pengantar bobo. Dan karna sekarang saat saya nulis ini sudah malam, maka saya akan nyanyiin lagu ini ke diri sendiri: tidurlah... malam terlalu malam...
Subscribe to:
Posts (Atom)


