Tulisan saya ini terinspirasi dari tulisannya Indra Herlambang di majalah Freemagz. Saya mau cerita tentang perpisahan.
Tadi pagi saya mengantar teman baik saya Sista yang akan berangkat naik kereta api ke Semarang di Stasiun Senen. Ini bukan pertama kali saya ke Stasiun Senen sih, tapi saking udah lamanya gak naik kereta sampai lupa suasanya stasiun kaya apa.
Kereta yang Sista tumpangi berangkat jam 7:30, jadi kami berangkat dari rumah jam 6 kurang. Di stasiun kami sarapan sebentar dan langsung ke peron. Sista langsung naik ke kereta dan menunggu di dalam, sedangkan saya di peron duduk. Dan saat itu, sambil dadah-dadah, hati saya langsung diseubungi perasaan sedih, rindu, excited yang membaur menjadi satu sampai membuat mata saya berkaca-kaca (tapi ditahan sedemikian mungkin). Berbagai pikiran berkecamuk di kepala saya:
-Saya pasti akan kangen Sista karna kemungkinan kami ketemu lagi masih entah kapan karna bahkan di libur semester nanti, kami akan disibukkan dengan kerja praktek dan magang yang telah kami rencanakan. Kalau gak beruntung, mungkin baru Natal atau tahun depan ketemu lagi.
-Sudah berapa juta orang yang melakukan hal yang sama, dadah-dadah kepada sanak saudara atau sahabat yang akan pergi ke kota lain, di peron ini. Pasti perasaan yang beragam juga berkecamuk di hati mereka saat itu. Antara penuh harapan, khawatir, sedih karna harus berpisah, atau yang lain.
-Walau saya belum pernah merantau ke kota lain, mencoba hidup sendiri jauh dari keluarga tercinta, entah bagaimana saya merasakan kerinduan yang sangat mendalam. Kerinduan akan kehidupan yang saya selalu idam-idamkan. Hidup mandiri di kota lain yang jauh lebih sederhana dari Jakarta dan kekompleksannya.
Yang hebat adalah, perasaan setelah melihat kereta itu berjalan meninggalkan peron stasiun dan sedikit demi sedikit menghilang dari pandangan. Perasaan saya dan mungkin para pengantar itu sama sekali tidak kosong, melainkan lega, sedikit khawatir, tapi lega. Lega bahwa yang kita antar telah naik kereta dan tidak tertinggal. Serta penuh harapan. Harapan bahwa orang terkasih kita tersebut akan sampai dengan selamat sampai tujuan, harapan bahwa ia akan menjalani kegiatan dan hidup di tempat tujuannya dengan damai walau jauh dari sanak saudara serta teman.
Dan diperjalanan pulangpun tangis saya pecah, pada saat itu saya baru menyadari betapa "penuh"nya suatu perpisahan. Betapa perpisahan yang selama ini kita anggap sesuatu yang menyedihkan sesungguhnya sesuatu yang melegakan. Bahwa suatu perpisahan membutuhkan suatu keberanian dari lebih dari dua pihak dan berpengaruh kepada kedewasaan. Betapa sesungguhnya perpisahan adalah awal dari permulaan yang indah.
Dan pulang dari stasiun sayang langsung mendapat kabar dari teman saya Ria kalau dia akan melanjutkan studi di negeri sebrang sana. Ah, another perpisahan! Saya sebagai junior (ciye) dan teman cuma bisa berdoa dan mengantar kepergian. Selamat berwisata kuliner di tempat baru nanti! Cihuy!
0 jagoan di:
Post a Comment